TEORI BELAJAR

Selasa, 15 Januari 2013



TEORI-TEORI BELAJAR DAN APLIKASINYA

A.    Pengertian Belajar
Beberapa definisi belajar menurut para ahli, antara lain :
  1. Cronbach dalam Educational Psychology, menyatakan : learning is shown by a change in behavior as a result of experience (hasil belajar yang baik harus melalui pengalaman.
  2. Harold Spears, menyatakan : learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction.
  3. Mc. Geah, menyatakan : learning is a change on performance as a result of practice.
  4. Whittaker, menyatakan : learning may be defined as a process by which behavior originates or is alterd through training or experience.
  5. Howard Kingsley, menyatakan : learning ia a process which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practise or training.
  6. Wingkel, menyatakan : belajar adalah aktivitas mental (psikis) yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat konstan dan berbekas.
Mendidik dalam masyarakat modern jelas tentu berbeda dengan apa yang dilakukan dalam masyarakat tradisional. Dalam masyarakat tradisional seseorang dapat belajar aktifitas sehari-hari secara langsung, dalam masyarakat modern pendidikan yang dilakukan di sekolah, apa yang dia pelajari tidak secara langsung terkait dengan kehidupan sehari-hari. Materi yang telah dipelajari relatif abstrak dan kompleks. Relevansi pelajaran di sekolah kurang dirasakan oleh peserta didik, sehingga proses belajar sering kurang berjalan lancar dan kurang berjalan secara efektif.
Sebagai pendidik merupakan suatu tugas keharusan untuk tahu beberapa macam teori-teori belajar. Hakekat pengajaran adalah untuk mengajak orang  belajar. Pendidik yang tidak tahu tentang teori belajar akan melakukan aktivitas yang tidak dilandasi oleh suatu teori. Pendidik hanya berdasarkan pengalamannya. Hal itu hanya layak dilakukan oleh pendidik tradisional. Adapun proses belajar didasarkan pada proses trial and error. Pendidik yang berusaha mencapai proses belajar mengajar yang efektif dituntut untuk mempersiapkan diri dan melaksanakan proses belajar secara berencana dan terarah. Untuk bisa menghasilkan pembelajaran yang efektif dan efisien, kita perlu merancang pembelajaran secara baik. Dalam merancang pembelajaran perlu memperhatikan teori belajar dan pembelajaran yang melandasinya, menentukan orientasi pembelajaran dan memperhatikan standar proses pembelajaran.
Unsur utama dalam belajar adalh terjadinya perubahan dari diri pebelajar, bisa disengaja atau tidak, bbisa lebih baik atau lebih buruk. Agar berkualitas sebagai belajar, maka perubahan harus dilahirkan dari pengalaman, oleh interaksi antara orang dan lingkungannya. Perubahan yang semata-mata karena kematangan tidaklah termasuk berkualitas dlam belajar. Perubahan-perubahan sementara yang diakibatkan oleh penyakit, kelelahan, kelaparan bukanlah termasuk dalam belajar.
Belajar adalah suatu proses usaha dilakukan oleh individu-individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Untuk lebih memperjelas pengertian mengenai proses belajar yang merupakan hasil penyelidikan para ahli psikologi.

B.     Teori Behaviorisme
Pandangan behavioristik atau behaviorisme berdasarkan pada hubungan stimulus-respon (S-R). Proses yang menunjukkan hubungan yang terus-menerus antara respons yang muncul serta rangsangan yang diberikan dinamakan suatu proses belajar. Beharioristik bersumber dari pandangan John locke mengenai jiwa anak yang baru lahir, ialah jiwanya yang paling kosong, seperti meja lilin putih bersih yang disebut tabularasa. Dengan demikian pengaruh dari luar jiwa anak dan pengaruh luar itu dapat dimanipulasi (ditrement secara luas). Dalam pandangan behavioristik belajar merupakan perubahan dalam tingkah laku seseorang dalam berbuat pada situasi tertentu. Adapun tingkah laku menurut behavioristik adalah tingkah laku yang dapat di amati sebagai indikasi telah terjadinya kegiatan belajar. Berfikir dan emosi tidak menjadi perhatian, karena keduanya tidak dapat diamati.
Pandangan behavioristik menganggap jiwa manusia itu pasif, yang dikuasai stimulus-stimulus atau perangsang-perangsang dari luar yang ada dilingkungan sekitar. Jadi tingkah laku manusia itu dapat dimanipulasi, serta dapat dikontrol atau dikendalikan, bahkan cara mengendalikan tingkah laku manusia dengan mengontrol pasangan-pasangan yang ada dilingkungannya. Tingkah laku manusia mempunyai hukum-hukum yang berlaku dalam hukum-hukum dalam geejala alam, umpamanya hukum sebab akibat. Metode-metode kealaman dapat dipakai dalam tingkah laku manusia, sehingga sifat hubungannya sangat mekanistis.
Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi atas dasar paradigma slimulus-respons yaitu suatu proses yang memberikan respon tertentu terhadap rangsangan yang datang dari luar. Ada empat unsur utama dalam proses stimulus-respons, yaitu :
1.      Unsur dorongan atau drive, yaitu kebutuhan akan sesuatu
2.      Rangsangan atau stimulus
3.      Reaksi atau respons
4.      Penguatan atau reinforcement
Tokoh-tokoh aliran behavioristik, antara lain :
1.      I.P Pavlov (Classikal Conditioning)
Belajar dapat mempengaruhi perilaku yang selama ini disangka reflektif dan tidak  dapat dikendalikan. Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang kesanggupan untuk berespon terhadap stimulus tertentu dapat dipindahkan pada stimulus lain. Belajar menurut I.P. Pavlov ini disebut juga (Conditioned Response), ia mengatakan dalam mempelajari hal belajar pada binatang.
Dalam percobaannya bahwa air liur anjing keluar bila mendengar suara lonceng berbunyi, yang sebelumnya dibunyikan pada saat anjing itu mendapat makanannya. Mengeluarkan air liur bila disodorkan makanan sesuatu yang wajar akan tetapi mengeluarkan air liur sewaktu mendengar lonceng itu berbunyi berkat conditioning. Banyak hal kelakuan yang kita peroleh dari conditioning, seperti masuk kelas atau ganti pelajaran bila lonceng berbunyi, berhenti dijalan bila ada lampu merah, dan sebagainya. Namun banyak hal yang tidak kita pelajari dengan conditioning, seperti kita terjadi permainan bola, belajar naik sepeda atau belajar matematika. Jadi menerima conditioning sebagai penjelasan atas segala bentuk belajar pasti suatu kekeliruan.
Pavlov mengadakan eksperimen pada anjing yang dengan memberikan makanan dikaitkan dengan bunyi bel dan lampu. Jika pada anjing ditunjukkan makan, maka air liunya akan keluar secara refleksnya. Timbulnya refleks saliva karena melihat makan itu disebut reflek eskreasi spikis dan sekreasi fisiologis. Atas dasar refleks sekreasi psikis dan fisiologis inilah sebagai dasar teori berlajar dengan kondisi (bersyarat) atau conditioning. Teori pavlov berkembang berkembang dengan teori refleks bersyarat.
                        Prinsip dasar dari model conditioning klasik adalah sebuah unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), dan conditioned stimulus (CS). US merupakan objek dalam lingkungan organisme yang secara otomatis diperoleh tanpa harus mempelajarinya terlebih dahulu atau bisa dikatakan sebagai proses yang nyata (UR). Sebagai contoh ynag diberikan Pavlov yaitu anjing, anjing meneteskan air liurnya (UR) melihat sebuah tulang (US); seorang anak menangis (UR) ketika melihat sekor gorilla (US); seorang anak tertawa (UR) ketika ia melihat badut (US). UR terbentuk secara otomatis ketika respons tersebut berhadapan dengan US. Reaksi atau respon ini dinamakan respons alami. Conditioning klasik timbul ketika stimulus netral sebelumnya (CS) mampu menimbulkan respons yang nyata atau terlihat dengan sendirinya. Hal ini terjadi melalui pemasangan yang berulang-ulang antara US dan CS; dan CS disajikan pada waktu yang bersamaan dengan US. Pasangan ini masing-masing akan menghasilkan UR, karena UR merupakan respons alami terhadap US. Conditioning klasik diperoleh ketika US tidak diperoleh, CS dapat menghasilkan UR dari organisme tersebut. Dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan , sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya

a.       Aplikasi Clasical Conditioning

Anak-anak mengasosiakan dokter dengan suntikan yang memyakitkan dan menangis ketika berjalan memasuki ruang praktik. Dalam kasus ini, suntikan merupakan US dan si dokter adalh CS. Sesuatu yang pada mulanya tidak membangkitkan respons “alamiah”, selanjutnya menimbulkan hal itu karena adanya pengasosiasian.

b.      Kelebihan dan Kekurangan teori Clasical Conditioning
Kelebihannya, disaat individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya, akan memudahkan pendidik dalam melakukan pembelajaran terhadap anak didik tersebut.
Sedangkan kekurangannya, jika ini dilakukan secara terus-menerus maka ditakutkan murid akan memiliki rasa ketergantungan atas stimulus yang berasal dari luar dirinya. Padahal seharusnya anak didik harus memiliki stimulus dari dirinya sendiri dalam melakukan kegiatan belajar dan kegiatan pemahaman

2.      E. L. Thorndike (Teori Koneksionisme)
Thorndike mengembangkan hukum belajar bahwa belajar menjadi berhasil bila murid terhadap respon murid terhadap stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan. Rasa senang atau puas timbul sebagai akibat anak-anak mendapat pujian atau ganjaran lainnya. Stimulus ini disebut reinforcement. Kesuksesan anak dalam belajar akan dapat menimbulkan kepuasan dan kepuasan pada gilirannya akan mendorong kesuksesan berikutnya.
Law Effect jika suatu tindakan diikuti oleh suatu perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, maka kemungkinannya tinggi tindakan itu diulangi. Pengembangan menurut Thorndike disebut juga koneksionisme, mengatakan bahwa belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dalam teori ini terdapat 3 dalil atau hukum, yaitu:
1.      Hukum Kesiapan (law nof readiness)
Pada intinya menyatakan bahwa suatu unit kondisi menyatakan bahwa suatu unit konduksi yang siap melakukan sesuatu maka akan melakukannya dengan senang, sedangkan bagi yang unit konduksinya belum siap maka akan cenderung menghindar. Dalam konteks ini pendidik seyogyanya memahami tingkat perkembangan intelektual dan sosial peserta didik, sehingga materi yang akan diberikan tidak terlalu berat dan akhirnya menjenuhkan dan menjadi beban peserta didik. Sebaliknya materi yang terkait dengan tingkat perkembangan peserta didik akan merangsang peserta didik untuk terus berkembang.

2.      Hukum latihan (law of exercise)
Hukum latihan ini pada intinya menyatakan bahwa prinsip belajar adalah pengulangan. Bila seseorang mendapat stimulus orang akan bertindak, dan bila mana tindakan tersebut mendapat respon maka akan bersangkutan akan cenderung mengulangnya. Maka pelaksanaan di lapangan pendidik tidak sekedar melakukan pengulangan bersifat rutinitas saja. Justru pengulangan secara rutin ini tidak akan bermakna dan mudah menimbulkan kejenuhan belaka. Maksudnya bahwa berbagai konsep pelajaran sering dipelajari dan digunakan untuk menganalisis kejadian pelajaran akan semakin mudah dipahami oleh peserta didik.
3.      Hukum akibat (law of effect)
Bila seseorang melakukan tindakan dan tindakan tersebut menimbulkan konsekuensi yang menyenangkan, yang bersangkutan akan semakin bersemangat. Sebaliknya bila stimulus tersebut kurang menyenangkan, maka respon yang diberikan semakin melemah. Peserta didik mengerjakan sesuatu dan mendapat ganjaran yang baik, akan semakin bersemangat, dan sebaliknya suatu tindakan yang menimbulkan hukuman akan cenderung dihindari.
Thorndike juga mempelajari masalah belajar pada binatang dengan merintis cara yang baru, yaitu dengan eksperimen. Antara lain yaitu terkenal dengan teori trial-and-error. S=Stimulus, R=Respon, B=Dihubungkan. Percobaan dilakukan pada anjing herder yang karena kebiasaan mengeluarkan air liur jika melihat lampu merah. Dalam hal ini sinar merah stimulusnya  dan air liur adalah responsnya. Mengajar menurut Thorndike dengan mengadakan suatu perbuatan emosional menimbulkan respons pada anak, jadi perbuatan ini kalau sering diulang menjadi suatu proses yang otomatis, belajar adalah dressure belaka.
Seekor kucing dapat keluar dari sangkar karena secara kebetulan menekan suatu palang membuka pintu itu. Ternyata pada kesempatan berikutnya waktu yang diperlukan untuk keluar berkurang, sehingga akhirnya  ia dapat keluar dengan segera. Akhirnya kucing yang keluar itu diberi suatu hadiah berupa makanan yang memberi motivasi bagi kucing yang lapar itu untuk keluar. Apakah manusia selalu bertindak secara trial-and-error dalam suatu yang problemmatis? Ternyata hal itu tidak akan. Manusia berfikir lebih dahulu tentang akibat apa yang akan dilakukan dan menyampingkan alternatif-alternatif yang tidak memberi hasil. Apabila ia telah menemukannya ia akan mengingatnya dan dapat menggunakannya dalam masalah yang sama. Jadi tidak ada proses yang berangsur-angsur terdapat pada manusia seperti halnya dengan binatang. Dengan demikian cara belajar memecahkan masalah yang digunakan oleh binatang tidak begitu saja dapat untuk diterapkan pada manusia.

  1. B. F. Skinner (Operant Conditioning)
Menurut  B.F. Skinner seseorang melakukan tindakan yang utama bukan disebabkan oleh stimulus yang dihadapi, melainkan oleh adanya ganjaran atau reward. Jika seseorang mendapatkan stimulus maka ia akan memberikan respon berdasarkan hubungan stimulus-respons. Respon yang diberikan dapat sesuai (benar), dapat pula tidak sesuai (salah).
Salah satu pengembang teori dalam pandangan behaviorisme adalah Skinner yang terkenal dengan teori operant conditioning. Menurut skinner bahwa tingkah laku tidak hanya respon dari stimulus, tetapi suatu tindakan yang sengaja atau disebut operant. Operant dipengaruhi oleh apa yang sesudahnya. Operant conditioning atau operant learning melibatkan pengendalian konseksuensi. Tingkah laku merupakan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang pada situasi tertentu. Tingkah laku terletak diantara dua pengaruh yaitu pengaruh yang mendahuluinnya (antecedent) dan pengaruh yang mengikutinya (konsekuen).
            Tidak seperti dalam respondent conditioning (yang responya didatangkan oleh stimulus tertentu), respon dalam conditioning operan terjadi tanoa didahului stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reifoncer. Reifoncer itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respon tertentu, akan tetapi tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.
Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik. Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku.
Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan menjadi dua yaitu penguatan positif yang berupa hadiah, perilaku atau penghargaan dan penguatan negative yang berupa menunda / tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang.
Prinsip belajar Skinner antara lain :
ü  Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
ü  Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
ü  Materi pelajaran digunakan sistem modul.
ü  Dalam proses pembelajaran tidak digunakan hukuman.
ü  Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforcer.
ü  Dalam pembelajaran digunakan shaping.

a.       Aplikasi Operant Conditoning
                Anak yang buang air di celana, selalu dimarahi ibunya (ganjaran negatif). Sebaliknya, jika ia mengatakan terlebih dahulu kepada ibunya bahwa ia akan buang air sehingga ibu bisa membawanya ke WC, anak itu akan dipuji ibunya (ganjaran positif). Lama-kelamaan anak itu belajar buang air di WC saja, bukan disembarang tempat. Di pihak lain, jika anak itu mengatakan bahwa ia ingin buang air, padahal ia tidak sakit perut, ibunya juga akan memarahinya karena setelah berepot-repot mendudukannya di WC, anak itu tidak mau buang air. Dengan demikian anak itu belajar bahwa ia hanya boleh mengatakan ”mau buang air” jika sakit perut.

b.      Kelebihan dan Kekurangan teori Operant Conditioning
Kelebihan teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan.
Sedangkan kekurangan teori ini bahwa tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat

C.    Teori Kognitivisme
Kognitif disebut juga kognitifisme, fokus utama dari pandangan kognitivisme adalah perilaku mental, pengetahuan, intelegensi, dan berfikir kritis dengan asumsi bahwa belajar sebagi hasil dari prose atau operasi mental. Teori belajar menurut psikologi Gestalat sering kali disebut insigt full learning atau field teori. Ada pula istilah lain yang sebetulnya identik dengan teori ini, yaitu organismic, pattern, holistic, interegation, configuration, dan closure. Perintis teori Gestalt ini ialah Chr. Von Ehrenfels, dengan karyanya “Uber Gestaltqualitation“ (1890). Aliran ini menekankan pentingnya keseluruhan  yaitu  sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya dan timbul lebih dulu dari pada bagian-bagiannya. Pengikut-pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi aliran-aliran lain. Bagi yang mengikuti aliran Gestalt perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer ialah keseluruhan , sedangkan bagian–bagiannya adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain ; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya.
Jiwa manusia menurut aliran ini, adalah suatu keseluruhan yang berstruktur atau merupakan suatu sistem, bukan hanya terdiri atas sejumlah bagian atau unsur yang satu sama lain terpisah, yang tidak mempunyai hubungan fungsional. Manusia adalah individu yang merupakan berbentuk jasmani-rohani. Sebagai individu, manusia itu bereaksi, atau lebih tepatnya berinteraksi, dengan dunia luar, dengan kepribadiannya, dan dengan cara yang unik pula. Sebagai pribadi, manusia tidak secara langsung bereaksi terhadap suatu perangsang, dan tidak pula reaksinya itu dilakuakn secara trial and error seperti dikatakan oleh penganut teori conditioning. Interaksi manusia terhadap dunia luar bergantung pada cara ia menerima stimulus dan bagaimana serta apa motif-motif yang ada padanya. Manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan. Ia bebas memilih bagaimana ia berinteraksi; stimulus mana yang diterimanya dan mana yang ditolaknya.
Atas dasar itu, maka belajar dalam pandangan psikologi Gestlat, bukan sekedar proses asosiasi antara stimulus-respon yang kian lama kian kuat disebabkan adanya berbagai latihan dan ulangan-ulangan. Menurut aliran ini belajar itu terjadi bila ada pengertian (insigt). Pengertian ini muncul jika seseorang, setelah beberapa saat, mencoba memahami suatu problem, tiba-tiba muncul adanya kejelasan,  terlihat olehnya hubungan antara unsur-unsur yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut-pautnya, untuk kemudian dimengerti maknanya. Jadi belajar yang penting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight.
Sifat-sifat insight ialah:
1)      Insight  tergantung dari kemampuan dasar.
2)      Insight  tergantung dari masa lampau yang relevan.
3)      Insight hanya timbul apabila situasi belajar diatur sedemikian rupa, sehingga aspek yang perlu dapat diamati.
4)      Insight adalah hal yang harus dicari, tidak dapat jatuh dari langit.
5)      Belajar dari insight dapat diulangi.
6)      Insight selalu didapat dapat digunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru.

Prinsip-prinsip belajar menurut teori Gestalt adalah:
1)      Belajar dimulai dari suatu keseluruhan
Orang berusaha menghubungkan suatu pelajaran dengan pelajaran yang lain sebanyak mungkin. Mata pelajaran yang bulat lebih mudah dimengerti daripada bagian-bagiannya.
2)      Belajar adalah suatu proses permbangan
Anak-anak baru dapat mempelajari dan merencanakan bahwa ia lebih matang untuk menerima mata pelajaran itu. Manusia sebagai suatu organisme yang berkembang, kesediaan mempelajari sesuatu tidak hanya ditentukan oleh kematangan jiwa batiniah, tetapi juga perkembangan anak karena lingkungan dan pengalaman.
3)      Siswa sebagai organisme keseluruhan
Siswa belajar tidak hanya inteleknya saja, tetapi juga emosional dan jasmaniahnya. Dalam pengajaran modern guru selain mengajar, juga mendidik untuk membentuk pribadi siwa.
4)      Terjadi transfer
Belajar dalam pokoknya yang terpenting penyesuaian pertama adalah memperoleh response yang tepat. Mudah atau sukarnya problem itu terutama adalah masalah pengamatan, bila dalam suatu kemampuan telah dikuasai betul-betul maka dapat dipindahkan untuk kemampuannya yang lain.
5)      Belajar adalah reorganisasi pengalaman
Pengalaman adalah suatu interaksi antara individu dengan lingkungannya. Misalnya anak kena api, kejadian itu menjadi pengalaman bagi anak. Belajar itu timbul jika seseorang menemui suatu situasi atau soal baru. Dalam menghadapi itu ia akan menggunakan segala pengalaman yang telah dimiliki. Siswa mengadakan analisis reorganisasi pengalamannya.
6)      Belajar harus dengan insight
Insight adalah suatu saat dalam proses belajar dimana seseorang melihat pengertian tentang sangkut paut dan hubungan-hubungan tertentu dalam unsur yang mengandung problem.
7)      Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan siswa.
Terjadi bila berhubungan dengan apa yang diperlukan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah progresif, siswa diajak membicarakan proyek atau unit agar tahu tujuan yang akan dicapai dan yakin akan manfaatnya.
8)      Belajar berlangsung terus menerus
Siswa memperoleh pengetahuan tidak hanya di sekolah saja melainkan memperolehnya di luar sekolah, dalam pergaulan, pengalaman sendiri-sendiri, oleh karena itu sekolah harus bekerja sama orang tua di rumah maupun di masyarakat, agar semua turut serta membantu perkembangan siswa secara harmonis.



a.       Aplikasi Teori Gestalt 
Aktivitas suatu cabang olahraga harus dilakukan secara keseluruhan, bukan sebagai pelaksanaan gerak secara terpisah-pisah. Karena itu guru atau pelatih harus menanamkan pengertian agar siswa atau atlet sadar akan keseluruhan kegiatan. Dengan kata lain , pemecahan keseluruahn aktivitas menjadi bagian-bagian yang terpisah akan menyebabkan siswa tidak mampu mengaitkan bagian-bagian tersebut. Karenaitu keuntungan utama dari keseluruahn permaianan yaitu menuntut siswa untuk mempersatukan bagian menjadi sebuah unit yang terpadu.
b.      Kelebihan dan kekurangan teori Gestalt
Kelebihan teori ini lebih melihat manusia sebagai seorang individu yang memiliki keunikan, dimana mereka harus berhubungan dengan lingkungan yang ada disekitar mereka. Dengan teori Gestalt yang lebih menekankan akan pentingnya pengertian dalam mempelajari sesuatu, maka akan lebih berhasil dalam mencapai kematangan dalam proses belajar.
Teori ini juga memiliki kelemeahan, karena menurut Gestalt sesuatu yang dipelajari dimulai dari keseluruhan, maka dikawatirkan akan menimbulkan kesulitan dalam proses belajar, sebab beban yang harus ditanggung sangatlah banyak.
Semua  teori belajar tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri. Di lapangan prosese belajar mengajar merupakan aktivitas yang kompleks. Ada beberapa aktivitas belajar yang terjadi karena adanya rangsangan, suatu stimulus yang diciptakan oleh pendidik. Pendidik yang cerdik dapat merekayasa proses belajar yang positif dari peserta didik. Tetapi pada saat yang bersamaan juga sangat dimungkinkan bahwa response yang diberikan oleh peserta didik tersebut dalam rangka memperoleh suatu nilai yang baik.












BAB III
KESIMPULAN










































DAFTAR PUSTAKA


Baharuddin,H dan Wahyuni, E N. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
H.J. Gino, dkk. 1997. Belajar dan Pembelajaran I. Surakarta : UNS.
Hariyono, 1995. Mempelajari sejarah secara efektif. Jakarta : Pustaka jaya
Nasution, S. 1987. Berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar. Jakarta : Bina Aksara
Riyanto, Y. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Slameto, 1988, Belajar dan faktor-faktor yang memnpengaruhinya. Jakarta :Bina Aksara
Sobur, Alex. 2003. Psikologi umum. Bandung : Pustaka Setia.
Subanji, 2011. Modul Pengembangan Modul Pembelajaran. Malang : Kementrian Universitas Negeri Malang.
Tan, Alexis S. 1981. Mass Communication Theories and Research, Indianola Avenue : Grid Publising, Inc.
Walker. 1967. Conditioning and Instrumental Learning. California : Wadsworth Publising Coy, Inc., Belmont.
Wirawan, Sarlito. 1984. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta : Bulan Bintang.




0 komentar:

Poskan Komentar